Selasa, 03 Februari 2015

Wujud Kerjasama Berkelanjutan Pemkab-Perguruan Tinggi Wajib Kembali Bangun Desanya!




“Pemkab bisa bekerjsama dengan perguruan tinggi di sekitar Bogor, lantas memberikan beasiswa unggulan kecamatan. Setiap kecamatan memperoleh satu beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (bisa sarjana atau diploma). Setelah lulus, penerima beasiswa harus kembali untuk membangun desanya.”
Alternatif program untuk meningkatkan lama sekolah dan kualitas sumberdaya manusia, khususnya di pedesaan adalah dengan cara membuat program beasiswa unggulan kecamatan. Setiap kecamatan memperoleh satu beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (bisa sarjana atau diploma).
Syarat utama dari beasiswa ini adalah jurusan yang diambil merupakan jurusan/keahlian yang paling diperlukan  oleh masing-masing kecamatan, dan  setelah lulus, maka penerima beasiswa harus kembali untuk membangun desanya.
Pemda bisa bekerjasama dengan universitas atau perguruan tinggi yang ada di sekitar Bogor. Jika program ini bisa berkelanjutan, maka di setiap kecamatan akan bertambah satu sarjana setiap tahunnya.
Program beasiswa juga harus diintegrasikan dengan program pembangunan di setiap desa atau kecamatan, sehingga sarjana yang sudah tercetak dapat bekerja di tempat asalnya.
Jika pendidikan formal tidak memungkinkan, maka dapat dibuat program pendidikan informal yang sesuai dengan kebutuhan anak putus sekolah. Sebagai contoh, untuk anak yang putus sekolah karena hukuman perlu dimasukkan ke dalam pendidikan nonformal yang mengedepankan pendidikan akhlak, moral dan motivasi.
Untuk anak putus sekolah karena alasan ekonomi bisa dibuat program pendidikan informal yang mengedepankan keterampilan di bidang pertanian, perbengkelan, jasa, dll, sehingga mereka dapat memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupannya.
Upaya Dinas pendidikan Kabupaten Bogor melalui UPTDnya di setiap kecamatan yang sudah melakukan penyisiran murid putus sekolah perlu diapreasiasi dan dilanjutkan. Langkah berikutnya adalah memberikan treatment terhadap murid putus sekolah tersebut, sesuai dengan penyebabnya (internal atau eksternal).
Sebagai contoh, murid yang putus sekolah karena masalah ekonomi perlu memperoleh beasiswa penuh  dari pemerintahan daerah atau melalui program bapak angkat. Murid yang putus sekolah karena faktor lingkungan yang kurang baik, kurangnya motivasi atau karena minimnya  dukungan keluarga akibat terbatasnya wawasan orangtua bisa difasilitasi di sekolah atau pesantren yang menyediakan asrama, sehingga murid dapat memperoleh motivasi dan lingkungan yang kondusif.
Pendekatan dan komunikasi intensif juga perlu diberikan kepada orangtua murid untuk menanamkan pentingnya pendidikan untuk masa depan anaknya. Kunci dalam mengurangi putus sekolah adalah membuat program yang sesuai dengan faktor penghambat murid tersebut dalam melanjutkan pendidikan.
Kabupaten Bogor memiliki SDA yang cukup besar, mulai dari lahan yang subur, bahan tambang, air, sehingga bisa  dibilang, apapun ada di Kabupaten Bogor. Di sisi lain, SDM di Kabupaten Bogor masih perlu ditingkatkan. Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Bogor masih kurang dari 9 tahun,  artinya secara rata-rata masyarakat Kabupaten Bogor belum lulus SLTP.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor pada 2012, angka putus  sekolah untuk tingkat SD sebanyak 0, 20 persen, SMP sebanyak 0,50 persen dan  SMA sebanyak 0,80 persen.  Karena pendidikan merupakan faktor penting dalam memajukan suatu bangsa, maka perlu upaya, peran dan kerja keras pemerintahan daerah dalam memajukan pendidikan masyarakatnya. Oleh: Handian Purwawangsa | *

sumber : http://jurnalbogor.co/?s=handian+purwawangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar